
Kamis, 07 Mei 2026
Selama bertahun-tahun, Bali mendominasi pembicaraan ketika orang asing membicarakan investasi properti di Indonesia. Namun baru-baru ini, investor cerdas mulai mengalihkan pandangan ke timur dan banyak dari mereka mendarat di Lombok Selatan.
Mengapa? Karena Lombok Selatan terasa seperti Bali sebelum ramai pengunjung, sebelum harga tanah melambung tinggi, dan sebelum pasar menjadi terlalu padat.
Saat ini, daerah-daerah seperti Tanjung Aan dan Gerupuk dengan cepat bertransformasi menjadi pusat pariwisata dan gaya hidup. Hotel, vila, restoran, dan bisnis kebugaran bermunculan di mana-mana, sementara investor internasional diam-diam mulai mengamankan lahan sebelum harganya melambung lebih tinggi lagi.
Salah satu alasan terbesar mengapa investor asing tertarik ke Lombok Selatan sangat sederhana: keterjangkauan harga.
Dibandingkan dengan daerah-daerah terkenal di Bali seperti Canggu atau Seminyak, harga tanah di Lombok masih jauh lebih rendah. Di beberapa bagian Lombok Selatan, harga tanah bahkan bisa hampir setengah dari harga di zona wisata premium Bali. Bagi investor, ini menciptakan peluang langka untuk memasuki pasar yang sedang berkembang sebelum mencapai kematangan penuh.
Pemerintah Indonesia telah memberikan dukungan besar terhadap pengembangan pariwisata Lombok melalui Zona Ekonomi Khusus Mandalika. Proyek infrastruktur besar-besaran, perbaikan jalan, perluasan bandara, acara olahraga internasional, dan rencana induk pariwisata semuanya mendorong Lombok Selatan menjadi sorotan global.
Proyek Mandalika sendiri mencakup hotel, vila, fasilitas hiburan, lapangan golf, dan sirkuit MotoGP yang terkenal di dunia internasional. Perkembangan ini telah sepenuhnya mengubah kepercayaan investor di wilayah tersebut.
Pertumbuhan pariwisata merupakan faktor utama lainnya. Lombok Selatan bukan lagi sekadar destinasi bagi para backpacker. Keluarga, peselancar, wisatawan yang mencari kesehatan, pekerja jarak jauh, dan wisatawan mewah semakin banyak memilih Lombok karena menawarkan sesuatu yang perlahan hilang dari Bali: ketenangan.
Pantainya lebih bersih, lalu lintas lebih lengang, dan suasananya masih terasa otentik. Banyak pengunjung menggambarkan Lombok sebagai "Bali tempo dulu" — tropis, damai, dan kurang komersial.
Pergeseran tersebut menciptakan peluang besar di bidang perhotelan dan properti sewa.
Vila mewah, resor ramah lingkungan, penginapan selancar, hotel butik, dan akomodasi jangka panjang mengalami peningkatan permintaan, terutama di Lombok Selatan. Beberapa laporan bahkan memperkirakan pendapatan sewa properti dapat mencapai 8–121 triliun per tahun di area wisata tertentu.
Investor asing juga memperhatikan peningkatan sistem hukum dan perizinan di Indonesia.
Pemerintah telah memperkenalkan proses perizinan yang disederhanakan melalui sistem Pengajuan Tunggal Daring (Online Single Submission), sementara struktur perusahaan milik asing seperti hak guna properti menyediakan jalur hukum untuk investasi terkait properti.
Diskusi daring sering mengingatkan warga asing untuk memahami dengan saksama hukum kepemilikan tanah di Indonesia dan menghindari jalan pintas yang berisiko. Banyak investor berpengalaman merekomendasikan penggunaan konsultan hukum dan lembaga terpercaya sebelum membuat komitmen. Dan jujur saja, itu adalah bagian dari investasi cerdas di mana pun di dunia.
Yang membuat Lombok Selatan istimewa saat ini adalah waktunya.
Kawasan ini masih dalam tahap pengembangan, yang berarti investor masuk pada fase pertumbuhan awal, bukan setelah masa kejayaan terjadi. Infrastruktur terus membaik, pariwisata terus meningkat, dan perhatian internasional tumbuh dari tahun ke tahun.
Lombok Selatan bukan lagi rahasia tersembunyi. Pulau ini menjadi salah satu pasar properti yang paling menarik di Indonesia—dan investor asing yang bergerak lebih awal mungkin akan mendapatkan keuntungan terbesar dari babak baru perkembangan pulau ini.
