Mengapa Tingkat Keuntungan Sewa Properti di Lombok Sangat Tinggi?

Lombok memiliki aturan dan tidak setiap investor dapat dengan mudah berinvestasi (Foto: Instagram@lombokhitz, 13/05/2026)

Rabu, 13 Mei 2026

 

Banyak investor yang melihat Lombok dan mengajukan pertanyaan yang sama: “Bagaimana mungkin imbal hasil sewa di sini begitu tinggi dibandingkan dengan tempat-tempat seperti Bali atau bahkan Eropa?” Dan jujur saja, itu pertanyaan yang wajar.

 

Karena di banyak pasar properti di seluruh dunia, mendapatkan pengembalian sewa tahunan sebesar 3–5 persen sudah dianggap layak. Sementara itu di Lombok, khususnya di Lombok Selatan, investor sering membicarakan pengembalian dua digit dari vila dan rumah liburan yang dikelola dengan baik.

 

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Alasan terbesarnya sebenarnya sangat sederhana: Lombok masih berada di awal siklus pertumbuhannya. Pulau ini saat ini menawarkan kombinasi unik antara harga properti yang relatif rendah dan permintaan pariwisata internasional yang kuat.

 

Kombinasi itulah yang menciptakan imbal hasil sewa yang tinggi. Misalnya, investor masih dapat membeli vila di Lombok dengan harga yang jauh lebih murah daripada properti serupa di Bali, sementara tarif sewa per malam seringkali tetap sangat kompetitif.

 

Selain itu, Lombok Selatan, khususnya daerah sekitar Kuta Lombok, Selong Belanak, dan Are Guling, telah mengalami transformasi pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kafe, restoran, pusat kebugaran, vila, ruang kerja bersama (coworking space), dan bisnis pariwisata baru bermunculan di mana-mana.

 

Pembangunan Mandalika dan sirkuit MotoGP juga mendorong Lombok ke sorotan internasional. Tiba-tiba, para pelancong yang dulunya hanya memperhatikan Bali mulai memperhatikan Lombok juga.

 

Namun, inilah bagian yang menarik. Meskipun pariwisata berkembang pesat, akomodasi berkualitas masih relatif terbatas di banyak daerah. Kesenjangan pasokan ini sangat penting. Reef Property Lombok menggambarkan Lombok Selatan sebagai "pasar sewa yang kekurangan pasokan," terutama untuk vila modern dan akomodasi butik.

 

Artinya, vila-vila yang bagus seringkali mencapai tingkat hunian yang tinggi. Beberapa operator melaporkan tingkat hunian di atas 80 persen untuk properti yang dikelola secara profesional di lokasi yang strategis.

 

Dan tidak seperti destinasi wisata musiman di Eropa, Lombok mendapat manfaat dari pariwisata sepanjang tahun. Peselancar, pekerja lepas digital, pekerja jarak jauh, dan wisatawan yang berlibur terus berdatangan sepanjang tahun.

 

Bahkan komunitas online pun mulai menyadari pergeseran ini. Dalam diskusi tentang investasi properti di Bali dan Lombok, beberapa investor menyebutkan bahwa pasar berkembang di luar zona Bali yang padat penduduk masih menawarkan peluang yang kuat dan potensi keuntungan jangka panjang yang lebih baik. Salah satu komentator bahkan mencatat bahwa "pengembalian 10%+ masih mungkin terjadi" di pasar pertumbuhan yang lebih baru.

 

Sebuah vila tetap membutuhkan pengelolaan, pemasaran, pemeliharaan, kejelasan hukum, dan posisi yang kuat di pasar. Lokasi yang buruk atau properti yang dikelola dengan buruk dapat mengalami kesulitan besar, terutama karena persaingan meningkat.

 

Dan Lombok sendiri berkembang pesat. Seiring semakin banyaknya investor yang memasuki pasar, imbal hasil mungkin akan berangsur normal dari waktu ke waktu, persis seperti yang terjadi di Bali beberapa tahun lalu.

 

Pulau ini masih tergolong baru sehingga menawarkan potensi pertumbuhan yang kuat, namun cukup maju untuk menarik permintaan pariwisata yang serius. Bagi orang-orang yang mencari properti sewa, keseimbangan tersebut sangat menarik.

 

Karena saat ini, Lombok berada di posisi yang sangat menarik antara "permata tersembunyi" dan "pusat perhatian global." Dan dalam investasi properti, biasanya di situlah peluang terbesar muncul.