Jumat, 04 September 2026
Indonesia sedang bergerak menuju ekonomi yang lebih hijau, dan menciptakan lapangan kerja baru yang mendukung lingkungan menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Isu ini disoroti pada Konferensi Lapangan Kerja Hijau Indonesia (IGJC) 2026 di Jakarta, di mana Indonesia dan Jerman memperkuat kerja sama mereka untuk mempromosikan lapangan kerja hijau dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Konferensi tersebut diadakan di gedung Bappenas di Jakarta pada tanggal 2 September 2026. Konferensi ini diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama dengan lembaga kerja sama pembangunan Jerman GIZ melalui proyek Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation, atau GESIT.
Meskipun fokus utamanya adalah lapangan kerja hijau, diskusi tersebut juga terkait erat dengan investasi dan pembangunan lingkungan. Ekonomi yang lebih hijau membutuhkan lebih dari sekadar ide bagus. Hal itu membutuhkan teknologi, infrastruktur, investasi, dan pekerja yang memiliki keterampilan yang tepat untuk mendukung industri baru.
Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk energi terbarukan. Pemerintah ingin pangsa energi baru dan terbarukan dalam bauran energi primer negara meningkat dari 20 persen pada tahun 2025 menjadi 70 persen pada tahun 2045. Menurut Bappenas, transisi ini dapat menciptakan jutaan peluang kerja baru.
Di sinilah kerja sama dengan Jerman menjadi penting. Jerman memiliki pengalaman luas dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, teknologi hijau, dan pelatihan tenaga kerja. Melalui kemitraan GESIT Indonesia-Jerman, kedua pihak bekerja sama di bidang-bidang seperti pengembangan kebijakan, peningkatan kapasitas teknis, program peningkatan keterampilan, dan solusi praktis untuk ekonomi hijau.
Konsep pekerjaan hijau sebenarnya lebih luas daripada sekadar menciptakan lapangan kerja di bidang energi terbarukan. Pekerjaan hijau juga dapat dikaitkan dengan pertanian, kehutanan, perikanan, manufaktur, pariwisata, pengelolaan limbah, energi, dan industri lainnya. Kuncinya adalah pekerjaan-pekerjaan ini harus berkontribusi pada perlindungan lingkungan atau beroperasi melalui proses yang lebih berkelanjutan.
Bappenas memperkirakan bahwa lebih dari 5,3 juta lapangan kerja hijau mungkin dibutuhkan di Indonesia pada tahun 2029. Pada saat yang sama, lebih dari 72 juta lapangan kerja yang ada berpotensi untuk diubah agar lebih sesuai dengan ekonomi rendah karbon.
Ini berarti Indonesia tidak hanya perlu menciptakan profesi yang sepenuhnya baru. Banyak pekerja yang sudah ada mungkin juga membutuhkan keterampilan baru. Seseorang yang sudah bekerja di bidang manufaktur, konstruksi, pertanian, atau transportasi, misalnya, mungkin membutuhkan pengetahuan tambahan untuk bekerja dengan teknologi yang lebih bersih dan metode produksi yang lebih berkelanjutan.
Oleh karena itu, IGJC 2026 berfokus pada menyatukan berbagai kelompok, termasuk lembaga pemerintah, bisnis, universitas, mitra pembangunan, masyarakat, dan kaum muda. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa transisi hijau tidak hanya terjadi di tingkat kebijakan tetapi juga dapat menciptakan peluang nyata bagi pekerja dan bisnis.
Dukungan Jerman sangat relevan karena investasi dalam teknologi hijau hanya akan efektif jika didukung oleh pekerja terampil. Seperti yang ditekankan oleh perwakilan Jerman selama konferensi, teknologi dan investasi membutuhkan orang-orang dengan keterampilan yang tepat agar transisi tersebut berhasil.
Bagi Jakarta dan Indonesia secara lebih luas, kerja sama ini dapat membantu membangun fondasi yang lebih kuat untuk investasi ramah lingkungan. Bisnis hijau membutuhkan pekerja, sementara pekerja membutuhkan pelatihan dan peluang baru. Ketika elemen-elemen ini bersatu, transisi hijau dapat menjadi bukan hanya agenda lingkungan tetapi juga peluang ekonomi.
Pesan dari IGJC 2026 cukup sederhana: berupaya ramah lingkungan tidak hanya berarti melindungi planet ini. Hal itu juga harus berarti menciptakan lapangan kerja yang lebih baik, mengembangkan keterampilan baru, menarik investasi berkelanjutan, dan mempersiapkan pekerja Indonesia untuk masa depan.

