
Kamis, 14 Mei 2026
Selama bertahun-tahun, Bali telah menjadi primadona investasi properti di Indonesia. Vila-vila mewah, klub pantai yang ramai, para digital nomad di mana-mana, dan janji keuntungan dua digit membuat pulau ini tampak seperti surga bagi para investor. Namun belakangan ini, nama lain mulai muncul dalam percakapan di antara pembeli properti yang cerdas: Lombok Selatan.
Jadi, pertanyaan besarnya sederhana: bisakah Lombok Selatan benar-benar memberikan keuntungan yang sebanding dengan Bali? Jawaban singkatnya? Mengejutkan, ya — dan dalam beberapa kasus, bahkan lebih baik.
Pertama, Bali masih mendominasi dalam hal jumlah wisatawan dan infrastruktur yang mapan. Namun, Lombok Selatan menjadi salah satu pasar berkembang dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia untuk investasi properti.
Salah satu alasan utamanya adalah harga. Di Bali, terutama di lokasi-lokasi populer seperti Canggu atau Seminyak, harga tanah telah meroket selama dekade terakhir. Investor yang memasuki pasar saat ini seringkali membayar harga premium, yang dapat mengurangi potensi ROI jangka panjang. Sementara itu, Lombok Selatan masih menawarkan lahan yang relatif terjangkau dengan pertumbuhan pariwisata yang kuat di masa mendatang.
Di sinilah letaknya hal yang menarik. Laporan dari pasar vila Lombok Selatan menunjukkan imbal hasil sewa hunian rata-rata sekitar 44 persen, dengan perkiraan ROI tahunan berkisar antara 12 persen hingga 28 persen. Sementara itu, properti di Bali umumnya memiliki ROI tahunan antara 12 persen dan 20 persen, tergantung pada lokasi dan kualitas manajemen.
Sederhananya: Lombok masih memiliki "energi pertumbuhan tahap awal." Bayangkan Bali 15 tahun yang lalu. Lebih sedikit keramaian, belum jenuh, dan penuh peluang. Itulah perasaan yang dirasakan banyak investor saat ini di Lombok Selatan.
Pertumbuhan pariwisata juga memainkan peran besar. Daerah seperti Kuta Lombok menarik para peselancar, pekerja digital nomaden, dan wisatawan yang mencari alternatif yang lebih tenang daripada Bali. Perbaikan infrastruktur, acara internasional seperti MotoGP di Mandalika, dan peningkatan eksposur global terus mendorong peningkatan jumlah pengunjung.
Sebuah studi kasus yang disebutkan oleh Lagoon menunjukkan bahwa sebuah vila dengan 3 kamar tidur di Lombok Selatan menghasilkan pendapatan bulanan mencapai lebih dari 170 juta IDR selama bulan-bulan puncak, dengan tingkat hunian naik di atas 70 persen pada musim ramai.
Namun tunggu dulu — ini bukan berarti Lombok adalah mesin pencetak uang yang pasti. Di sinilah realitas perlu berperan. Sama seperti Bali, investasi properti memiliki risiko. Perkiraan tingkat hunian yang berlebihan, struktur hukum yang lemah, manajemen yang buruk, dan proyeksi pemasaran yang tidak realistis dapat menghancurkan keuntungan yang diharapkan.
Kabar baiknya adalah Lombok saat ini terhindar dari beberapa masalah terbesar Bali: pembangunan yang berlebihan, kemacetan lalu lintas, dan kejenuhan pasar. Banyak investor melihat ini sebagai keuntungan karena wisatawan semakin mencari destinasi yang terasa lebih alami dan tidak terlalu ramai.
Pada akhirnya, Lombok Selatan bukanlah "Bali berikutnya", dan mungkin justru itulah mengapa investor menaruh perhatian. Lombok Selatan menawarkan sesuatu yang perlahan hilang dari Bali seiring waktu: ruang untuk berkembang.
Bagi investor yang bersedia berpikir jangka panjang, fokus pada lokasi yang baik, dan bekerja sama dengan mitra lokal yang andal, Lombok Selatan berpotensi menjadi salah satu kisah investasi properti paling menarik di Indonesia dalam dekade mendatang.
