
Kamis, 14 Mei 2026
Selama bertahun-tahun, Bali telah menjadi bintang pariwisata dan investasi properti di Indonesia. Semua orang menginginkan bagiannya. Vila-vila bermunculan di mana-mana, klub pantai berkembang biak seperti jamur setelah hujan, dan harga properti terus naik setiap tahunnya.
Namun, inilah yang mulai disadari oleh sebagian besar investor cerdas: menemukan "peluang murah" di Bali saat ini semakin sulit. Itulah mengapa semakin banyak orang mengalihkan perhatian mereka ke Lombok. Dan jujur saja? Waktunya sangat tepat.
Menurut Feel Invest Group, Lombok memasuki fase yang oleh banyak investor dibandingkan dengan “Bali sebelum booming.” Pulau ini masih relatif belum tersentuh, harga tanah tetap rendah, dan pengembangan pariwisata terus tumbuh dengan stabil. Singkatnya: Lombok masih memiliki ruang untuk berkembang pesat.
Salah satu alasan utama investor pindah ke Lombok saat ini adalah pembangunan infrastruktur. Pemerintah Indonesia telah gencar mempromosikan Lombok melalui inisiatif pariwisata “10 Bali Baru”. Proyek-proyek seperti sirkuit Mandalika, perbaikan jalan, akses bandara, dan zona wisata membantu pulau ini menarik perhatian internasional.
Itulah mengapa banyak investor percaya bahwa membeli properti di Lombok saat ini bukan hanya tentang mendapatkan pendapatan sewa tahun depan. Ini tentang memposisikan diri sebelum harga naik secara signifikan dalam 5 hingga 10 tahun ke depan.
Lombok Selatan khususnya telah menjadi area yang menarik perhatian. Tempat-tempat seperti Kuta Lombok menarik para peselancar, pekerja jarak jauh, pengusaha, dan wisatawan yang menginginkan gaya hidup tropis tanpa suasana ramai seperti di Bali. Alih-alih kemacetan lalu lintas yang tak berujung dan pantai yang penuh sesak, Lombok masih menawarkan garis pantai yang sepi, perbukitan yang tenang, dan suasana yang lebih santai.
Ironisnya, perasaan "kurang berkembang" itulah yang justru membuatnya menarik. Menurut beberapa platform investasi Lombok, permintaan akan vila dan sewa jangka pendek terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah wisatawan. Beberapa pengembang bahkan memproyeksikan pengembalian tahunan antara 10 persen hingga 16 persen, tergantung pada proyek, lokasi, dan kualitas manajemen.
Selain itu, tidak setiap proyek akan sukses dalam semalam. Beberapa materi promosi online bisa terdengar terlalu optimis, terutama ketika berbicara tentang ROI (Return on Investment). Bahkan investor berpengalaman di Reddit sering mengingatkan pendatang baru bahwa investasi properti masih merupakan permainan jangka panjang yang membutuhkan kesabaran, riset, dan perencanaan keuangan yang baik.
Itu poin penting. Lombok bukanlah jalan pintas ajaib menuju kekayaan instan. Tetapi dibandingkan dengan pasar yang lebih jenuh, Lombok menawarkan sesuatu yang langka: peluang di tahap awal. Investor yang masuk sekarang pada dasarnya membeli potensi pertumbuhan di masa depan, alih-alih bersaing di pasar yang sudah terlalu panas.
Bisnis di Lombok memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas. Ekonomi Lombok tumbuh tidak hanya dari pariwisata, tetapi juga dari sektor pendukung seperti perhotelan, kafe, bisnis kesehatan, resor ramah lingkungan, dan layanan digital. Jadi peluangnya lebih besar daripada sekadar "beli vila, sewakan vila."
Banyak pengusaha membangun bisnis jangka panjang di sekitar perkembangan pulau ini. Bagian yang menarik adalah Lombok masih terasa seperti harta karun tersembunyi bagi banyak investor internasional. Begitu eksposur global meningkat, terutama melalui kampanye pariwisata dan media sosial, permintaan dapat meningkat jauh lebih cepat.
Dan biasanya, ketika semua orang mulai membicarakan peluang investasi, titik masuk termurah sudah hilang. Itulah mengapa banyak orang percaya bahwa momen emas Lombok yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.
