Kamis, 03 September 2026
Indonesia dan Spanyol telah mencari cara untuk memperkuat hubungan ekonomi mereka, khususnya di bidang perdagangan dan investasi. Dengan kekuatan dan pasar yang berbeda di kedua negara, terdapat banyak ruang untuk kerja sama di tahun-tahun mendatang.
Diskusi tersebut berlangsung selama Pertemuan Menteri Perdagangan, Investasi, dan Industri G20 (TIIMM) 2022 di Bali. Menteri Perdagangan Indonesia Zulkifli Hasan bertemu dengan Menteri Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata Spanyol María Reyes Maroto Illera untuk membahas peluang perluasan kerja sama antara kedua negara.
Selama pertemuan tersebut, kedua belah pihak melihat potensi peningkatan perdagangan dan investasi di beberapa sektor. Perikanan dan pariwisata secara khusus disebutkan sebagai bidang di mana Indonesia dan Spanyol dapat menjajaki kerja sama yang lebih besar.
Hal ini menarik karena Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dan beragam sumber daya alam, sementara Spanyol menyediakan akses ke pasar Eropa dan memiliki pengalaman di beberapa industri. Oleh karena itu, kerja sama yang lebih kuat dapat menguntungkan bisnis dari kedua negara.
Kedua menteri tersebut juga menyoroti pentingnya meningkatkan interaksi antara komunitas bisnis Indonesia dan Spanyol. Dengan kata lain, diskusi antar pemerintah hanyalah sebagian dari persamaan. Dunia usaha juga membutuhkan kesempatan untuk bertemu, menjajaki kemitraan, dan memahami apa yang ditawarkan oleh masing-masing pasar.
Untuk mendorong hal ini, Indonesia mengundang pelaku bisnis Spanyol untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-37, yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2022. Acara seperti ini dapat memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk mencari calon pembeli, pemasok, investor, dan mitra bisnis.
Hubungan perdagangan antara Indonesia dan Spanyol sudah menunjukkan momentum positif pada saat itu. Dari Januari hingga Juli 2022, total perdagangan antara kedua negara mencapai US$1,6 miliar, mewakili peningkatan 6,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada tahun 2021, total perdagangan bilateral mencapai US$1,4 miliar, naik 53,83 persen dari tahun 2020.
Indonesia juga mencatatkan surplus perdagangan dengan Spanyol pada tahun 2021. Ekspor Indonesia ke Spanyol bernilai sekitar US$1.400.230 miliar, sementara impor dari Spanyol mencapai sekitar US$1.400.684,1 juta. Ekspor Indonesia meliputi minyak sawit, bijih dan konsentrat tembaga, baja, asam lemak monokarboksilat, serta lemak hewani dan nabati.
Di sisi lain, Indonesia mengimpor produk dari Spanyol seperti vaksin manusia dan hewan, obat-obatan, pewarna makanan, kertas atau karton daur ulang, serta parfum dan wewangian.
Ke depan, salah satu isu penting yang dibahas oleh kedua negara adalah Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa, atau CEPA. Kedua menteri mendukung upaya untuk menyelesaikan negosiasi sesegera mungkin. Perjanjian tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan lebih banyak peluang kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Spanyol karena Spanyol merupakan bagian dari Uni Eropa.
Bagi Indonesia, hubungan yang lebih erat dengan Spanyol dapat membuka lebih banyak peluang untuk ekspor dan investasi asing. Pariwisata dan perikanan merupakan sektor yang sangat menarik, tetapi kerja sama berpotensi berkembang ke bidang lain seiring dengan semakin kuatnya hubungan bisnis.
Bagi Spanyol, Indonesia menawarkan akses ke salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan lokasi strategis di kawasan ASEAN yang lebih luas. Hal itu menjadikan Indonesia sebagai mitra yang menarik bagi perusahaan yang ingin memperluas kehadirannya di kawasan tersebut.
Jadi, meskipun kerja sama perdagangan mungkin terdengar seperti sesuatu yang hanya dibahas dalam pertemuan pemerintah, dampaknya dapat menjangkau bisnis dan konsumen biasa. Investasi yang lebih banyak dapat menciptakan peluang bisnis, sementara hubungan perdagangan yang lebih kuat dapat memberi perusahaan akses ke pasar baru.
Indonesia dan Spanyol mungkin dipisahkan oleh ribuan kilometer, tetapi hubungan ekonomi mereka yang berkembang menunjukkan bahwa jarak bukanlah penghalang. Dengan koneksi bisnis yang lebih kuat dan kebijakan perdagangan yang mendukung, kerja sama antara kedua negara dapat menjadi lebih penting di masa depan.

