
Rabu, 06 Mei 2026
Lombok sedang menjadi primadona. Dengan pantai-pantainya yang masih alami, pariwisata yang berkembang, dan perhatian global yang meningkat, tidak mengherankan jika investor asing berbondong-bondong masuk. Namun, masalahnya adalah, banyak dari mereka mengulangi kesalahan yang sama berulang kali.
Dan dalam bidang properti, satu langkah yang salah dapat merugikan Anda lebih dari sekadar uang. Mari kita uraikan lima kesalahan paling umum (dan cara menghindarinya) dengan cara yang sederhana.
1. Terpikat pada Harga, Bukan Lokasi
Tanah murah di Lombok bisa sangat menggiurkan. Pemandangan laut, area tenang, harga rendah—kedengarannya sempurna, bukan? Tapi percayalah, itu tidak selalu demikian.
Lokasi adalah segalanya. Sebidang tanah yang lebih murah di daerah terpencil mungkin tampak seperti tawaran yang menguntungkan, tetapi jika sulit diakses atau jauh dari pusat wisata, potensi pendapatan sewanya akan menurun secara signifikan.
Investor cerdas tidak hanya bertanya, “Apakah harganya murah?” Mereka bertanya, “Apakah orang-orang benar-benar akan tinggal di sini?”.
2. Mengabaikan Persyaratan Hukum
Di sinilah masalahnya menjadi serius. Indonesia memiliki hukum properti yang ketat, terutama untuk warga negara asing. Anda tidak bisa begitu saja membeli tanah seperti di negara asal Anda. Melewatkan langkah-langkah hukum atau mempercayai "kesepakatan lisan" dapat menyebabkan masalah besar di kemudian hari.
Banyak investor yang rugi hanya karena mereka tidak memeriksa ulang dokumen atau berkonsultasi dengan ahli hukum yang tepat.
Aturan praktis: jika terdengar terlalu mudah, kemungkinan besar berisiko.
3. Melewatkan Uji Tuntas yang Tepat
Beberapa pembeli bertindak terlalu cepat. Mereka melihat penawaran yang bagus, merasakan tekanan, dan langsung mengambil keputusan. Itu adalah kesalahan besar.
Tanpa uji tuntas yang tepat, Anda mungkin akan membeli tanah dengan kepemilikan yang tidak jelas, pembatasan zonasi, atau bahkan sengketa. Di Lombok, tidak semua tanah siap dibangun, meskipun terlihat sempurna.
4. Meremehkan Biaya Tersembunyi
Membeli tanah hanyalah permulaan. Ada pajak, biaya perawatan, biaya hukum, pembangunan infrastruktur, dan terkadang pengeluaran tak terduga yang muncul kemudian.
Banyak investor hanya fokus pada harga pembelian dan melupakan gambaran yang lebih besar. Dan tiba-tiba, "investasi murah" itu tidak terasa murah lagi.
5. Kesalahpahaman Aturan Kepemilikan
Ini mungkin jebakan terbesar. Warga negara asing tidak dapat secara langsung memiliki tanah hak milik di Indonesia. Beberapa investor mencoba mengakali hal ini dengan menggunakan perjanjian nomine (menempatkan properti atas nama orang lokal).
Terdengar cerdas—tetapi berisiko. Anda bisa kehilangan kendali hukum atas properti Anda sepenuhnya. Cara yang lebih aman? Gunakan struktur hukum seperti hak penggunaan yang tepat.
Berinvestasi di properti Lombok bukanlah ide yang buruk—bahkan, bisa jadi langkah yang sangat cerdas. Pulau ini masih terus berkembang, dan peluang ada di mana-mana. Tetapi Lombok bukanlah pasar yang "siap pakai".
Pasar ini memberi penghargaan kepada investor yang berhati-hati, berpengetahuan, dan sabar. Jadi sebelum Anda terjun, ingatlah ini: Ini bukan tentang seberapa cepat Anda berinvestasi, tetapi tentang seberapa baik Anda memahami permainannya.
